Nasional, beritainnews.com – Momentum Agustus 2025 yang seharusnya menjadi hari kemeriahan bagi bangsa Indonesia dalam menyambut HUT kemerdekaan republik Indonesia yang ke 80, dengan masih terpampang banyaknya berbagai atribut merah putih di setiap sudut jalan serta banner dan gapura gapura yang bertuliskan “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” yang merupakan tema HUT RI kali ini. Namun ironisnya yang justru momen hari kemerdekaan tahun ini menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia oleh berbagi peristiwa yang menyayat hati terjadi dimana mana.

Peristiwa tersebut dipicu dari sikap DPR RI yang seharusnya mengutamakan kepentingan rakyat, justru lebih mengutamakan kepentingannya sendiri dan kelompoknya dengan tunjangan tunjangan yang dinaikan sangat signifikan kepada mereka, di tambah dengan ulah para pejabat ini yang seolah menari di atas penderitaan rakyat dengan berjoget usai tunjangan mereka dinaikan dan justru malah pajak rakyat ikut dinaikan. Sehingga hal itu membuat mahasiswa dan rakyat turun ke jalan melakukan aksi demontrasi di depan gedung DPR RI untuk menuntut keadilan dan meminta DPR dibubarkan yang awalnya para pendemo meminta aspirasinya didengar langsung oleh para wakil rakyat, namun aksi tersebut diabaikan para anggota DPR RI tanpa sama sekali ditemui untuk berdialog, yang justru dibalas dengan cibiran komentar pejabat dewan yang menyakiti hati rakyat, sehingga itu langsung menyulut api kemarahan para demonstran menjadi berkobar lebih besar yang akhirnya menjadi cheos/kekacauan yang mengakibatkan bentrokan antara pendemo dengan aparat kepolisian yang bertugas menjaga keamanan gedung DPR RI tidak terhindarkan yang akhirnya banyak korban berjatuhan.

Belum selesai sampai di sana, terjadi insiden yang memilukan atas pengemudi ojek online meninggal dunia terlindas kendaraan kendaraan taktis (rantis) milik aparat kepolisian di tengah aksi unjuk rasa, tentu kejadian itu menambah bara api kemarahan para demonstran dan amarah rakyat semakin berkobar tinggi. Berbagai pasilitas umum pun dirusak hancur bahkan di bakar masa pendemo yang berujung menjadi kebrutalan seakan menyulut kobaran api amarah para demonstran semakin tinggi yang mengarah pada dendam tterhadap aparat kepolisian, sehingga para demonstran menyerang berbagai kantor kepolisian.

Begitupun aksi aksi demo di berbagai daerah yang turut tersulut sehingga perusakan pasilitas umum terjadi hingga penjarahan terhadap rumah anggota dewan terjadi dan kantor kepolisian pun tidak luput dirusak masa, bahkan kantor dpr pun dibakar masa.

Kini hanya menyisakan puing puing reruntuhan dan kerusakan yang menjadikan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia di bulan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 ini yang menghapus tema “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju kemerdekaan” menjadi peristiwa berdarah yang memilukan.
Ini menjadi sejarah kelam kedua yang sebelumnya terjadi di tahun 1998 sebagai pembelajaran bagi Pemerintah Indonesia dan DPR RI, bahwa rakyat adalah pemilik sepenuhnya tanah air Indonesia ini, jadi negara tidak bisa mengabaikan aspirasi rakyat ketika menuntut keadilan. Maka negara harus berpihak pada Rakyat bukan justru dikorbankan untuk kepentingan memperkaya diri dan Kelompok.
Red.
Editor: Anwar S







